Apa kabar ibu ?
Saat aku membaca al fatihah untukmu,
Aku teringat saat masih kecil
Ibu mengajari aku kirim doa untuk mbah kakung selepas sholat
Waktu itu ibu mengibaratkan doa yang dikirim seumpama air di padang pasir
Tiba-tiba air mataku menggenang
Maafkan aku bu
Semoga ibu tidak kehausan di sana ya
Mengingat aku seringkali lalai kirim doa untuk ibu
Tampilkan postingan dengan label About Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label About Me. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Januari 2017
Kamis, 24 November 2016
Mainkan Saja Peranmu. Tugasmu Hanya Taat kan?
Nemu ini pas lagi instagram walking. Dari akun instagram fenny_mediany. Keren banget puisinya. Langsung saya copas di sini sebagai self reminder.
"
Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman temanmu yang lain sudah berpenghasilan, sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan.
Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Sabtu, 23 Juli 2016
Dua Tahun Kepergian Ibu
Hari ini tepat 2 tahun kepergian ibu menurut kalender masehi. Masih saja ingin menangis tiap kali saya mengingat ibu. Masih saja merasa bahwa waktu yang saya miliki bersama ibu di dunia terlalu singkat. Masih saja merasa kangen, karena terakhir saya bertemu ibu dalam keadaan sehat adalah 3 minggu sebelum kepergiannya. Istighfar.
Semakin hari, semakin banyak kebaikan ibu yang saya ingat. Ibu cukup keras dalam mendidik saya. Bahkan di saat yang berat pun, ibu tetap tidak memanjakan saya. Dan manfaatnya sangat saya rasakan sekarang setelah ibu tiada. Saat saya menjadi seorang istri dan ibu dari dua balita. Saat ini pun, ketika saya menghadapi saat-saat yang berat, saya jadi terbiasa untuk tidak mudah mengeluh. Bukan berarti saya strong dan tabah banget yaa. Masih suka mewek juga. Bangeet. Sampai termehek-mehek malah. Hanya saja tidak di depan orang lain. Saya bukan type orang yang suka curhat sambil nangis-nangis. Saya lebih suka nangis sendiri, terkadang di atas sajadah sambil berdoa. Habis itu plong. Mana ada sih, teman curhat yang lebih hebat dari Allah, dijamin bisa ngasih solusi pula. Subhanallah.
Selasa, 01 Desember 2015
Me as a Mother - Full Time Mom Wannabe ?
Beberapa waktu lalu ada postingan di FB tentang Rezeki Itu Milik Allah. Dikisahkan seorang istri yang suaminya meninggal sementara ia adalah ibu rumah tangga biasa yang tidak bekerja kantoran. Padahal mereka dikaruniai 8 orang anak. Tentunya sebagai orang awam (baca: ilmu agamanya masih cetek) saya langsung bertanya-tanya, terus bagaimana kelangsungan hidup ibu itu selanjutnya? Lebih berat tentunya. Perlu lebih banyak kerja keras dan doa. Tapi semua baik-baik saja.
Kamis, 23 Juli 2015
Setahun Kepergian Ibu
Hari ini, tepat setahun yang lalu ibu meninggal. Rasanya baru kemarin saya bertemu ibu untuk yang terakhir kalinya. Saat saya pamitan mau kembali ke Surabaya. Semua masih tergambar dengan jelas di ingatan saya. Setelah kepergian ibu, seperti ada lubang di hati saya yang belum bisa tertutup sampai sekarang. Seolah ada yang hilang. Setiap pulang ke rumah, banyak sekali kenangan tentang ibu yang terlintas di ingatan saya.
Kamis, 12 Maret 2015
Tips Belanja Online
image dari sini
Saya suka sekali browsing dan membaca tentang banyak hal. Seringnya sih tentang parenting (urban mama, mommiesdaily), blog-blog inspiratif (Ust. YM, dr Meta, dll) dan yang paling bahaya adalah.....online shop pemirsah. Semakin sering membaca, apalagi kalo membaca review suatu produk, semakin sering saya ingin mencoba. Baca: belanja.
Jumat, 16 Januari 2015
Belajar 'Let It Go'
Kita diperintahkan oleh agama ini untuk memaafkan. Pemaaf adalah akhlak mulia. Memaafkan siapapun yang menyakiti kita. Memaafkan semua kejadian yang menyakitkan.
Tetapi jelas, memberikan kesempatan kedua adalah sepenuhnya hak kita. Dan itu tidak ada hubungannya dengan tulus atau tidak tulus memaafkan. Dalam situasi tertentu, itu sederhana soal jangan sampai kita jatuh ke lubang yang sama dua kali.
*Tere Liye
Senin, 03 November 2014
Mengenang Ibu
Sedianya mukena ini akan saya berikan pada ibu saat lebaran. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Ibu bahkan belum sempat melihatnya. Saya ingat betul saat pertama kali bertemu ibu di ruang ICU. Melihat kondisi ibu saya langsung tahu, bahwa ibu tidak mungkin memakai mukena pemberian saya saat lebaran nanti. Saat itu ibu masih kritis. Pikir saya mungkin nanti kalo lebaran haji. Ternyata saya salah. Besoknya ibu meninggal. Bahkan mukena yang saya pesen via online itu belum terkirim. Karena di hari yang sama ibu kecelakaan dan saya pulang ke Jombang.
Tapi bukan itu yang ingin saya kenang tentang ibu. Masih banyak kenangan lainnya yang lebih indah untuk saya kenang.
Jumat, 17 Oktober 2014
Writing is Healing
I'm not always happy. I don't have smiley face all the time. Sometimes I'm crying too. Feeling sad, disappointed, tired, upset, exhausted and another bad feeling. There’s a time when life doesn’t goes my plan or my hope. And there's a day when I face bad or sad situation that hurts my heart badly.
Senin, 01 September 2014
Menjadi Ibu Dengan 2 Balita
Saya baru tau gimana rempongnya menjadi ibu dengan dua balita saat cuti persalinan kemarin. Rasanya... . sesuatuh ^_^ Banyak sekali hal baru yang harus saya pelajari untuk bisa survive. Terutama sih, manajemen waktu. Awalnya saya sempat merasa 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu berasa kurang. Perasaan mata ini baru terpejam, eh sudah pagi lagi. Harus struggle lagi. Huwaaa
Kamis, 28 Agustus 2014
Mengikhlaskan ibu
Sejatinya, yang paling dibutuhkan ibu saat ini bukanlah air mata saya. Apalagi tangis kehilangan dan penyesalan. Yang paling dibutuhkan ibu saat ini adalah doa dan keikhlasan saya.
Ibu meninggal hari Rabu tanggal 23 Juli 2014, 2 bulan 1 hari setelah Aya lahir. Cucu perempuan pertama yang sudah lama dinanti oleh ibu. Ibu sangat bahagia dengan kehadiran Aya. Apalagi Aya paling gendut diantara bayi2 seusianya. Binar-binar kebahagiaan tampak jelas di mata Ibu tiap kali memandang Aya. Apalagi jika ada yang memuji Aya.
Aya sempat menemani Ibu selama 38 hari, sampai akhirnya saya kembali ke Surabaya. Tiap kali telphon Ibu selalu menanyakan kabar Aya, seraya tak sabar menanti lebaran dan melihat Aya memakai rok lucu-lucu hadiah dari kerabat yang menjenguk Aya. Ternyata Allah berkehendak lain, Ibu meninggal 5 hari sebelum lebaran hingga tak sempat bertemu Aya lagi.
Semasa hidupnya, Ibu sering berucap ingin berpulang dalam keadaan husnul khotimah, cepat dan tidak ingin menjadi beban bagi yang ditinggalkan. Ibu mengalami kecelakaan sepeda pada hari Selasa pagi tanggal 22 Juli 2014. Kepalanya terbentur hebat dan mengakibatkan pendarahan di otak. Sorenya Ibu dioperasi. Saya sempat bertemu Ibu pasca operasi di ruang ICU. Hanya sebentar. Saya hanya bisa menyampaikan bahwa saya datang bersama Aya. Setelah itu saya keluar sambil menahan tangis. Tangan dan kaki saya mulai mati rasa. Hanya Allah yang menguatkan saya. Besok paginya, tepat jam 7 pagi ibu berpulang ke rahmatulloh. Insya Allah, keinginan Ibu semasa hidupnya diijabah. Aamiin.
Rabb, sungguh tak pantas jika hamba mendustakan nikmatMu dan bertanya kenapa. Apalagi berandai-andai jika yang terjadi adalah sebaliknya. Allah, ampunilah hambaMu untuk setiap tetes air mata yang kadang masih membasahi pipi. Sungguh, saat ini pun Engkau tengah memberikan yang terbaik untuk ibu dan kami semua yang ditinggalkan. If happiness is everytime I thank God, then I have to reach it, begin with say Alhamdulillah.
Alhamdulillah ya Allah, untuk setiap kebahagiaan, kesempatan, anugerah, doa yang diijabah, keluarga yang penuh kasih, kerabat yang baik, dan semua nikmat duniawi yang telah Kau berikan pada Ibu semasa hidupnya, dan pada kami semua yang ditinggalkan. Ampunilah semua dosa-dosa kami, dan terimalah Ibu di tempat yang terindah di sisiMu. Aamiin.
Allah, aku berserah kepadaMu. Aku percaya semua terjadi atas ridhoMu, dan itu pasti yang terbaik untuk kami semua. Dan yang terbaik saat ini adalah, mengikhlaskan Ibu.
Selasa, 15 Oktober 2013
Aha Moment
Image dari: motivaksi.blogspot
Buat
penggemar Oprah Show pasti tau istilah 'Aha Moment'. Saya
mengartikannya sebagai moment saat saya bangkit dari keterpurukan. Dan
moment itu saya temukan lewat buku 'Quantum Ikhlas' dan nasihat dari
seseorang. Sebelumnya saya sempat merasa berada di titik terendah dalam
hidup saya. Tanpa pekerjaan, tanpa pacar, tanpa teman yang bisa
mengerti, dan yang paling parah, tanpa harapan. Kalo istilah lebaynya
sih, parah jasa. ;) Saat itu saya benar-benar clueless. Saya tidak tau
harus berbuat apa, harus berpikir apa. Bahkan saat berdoa pun saya tidak
tau harus meminta apa.
Selasa, 05 Maret 2013
My Love Journey
Perjalanan cinta saya tidak bisa
dibilang mudah, tidak terlalu rumit juga sih, apalagi sampai drama yang berurai
mata. Hanya saja cinta sejati saya datangnya ‘agak terlambat.’ Saya menikah
menjelang usia 30 tahun. Dan saya mengenal calon suami saya 4 atau 5 bulan
sebelum pernikahan. Mungkin bagi sebagian orang usia segitu belum bisa dibilang
terlambat. Masalahnya orang tua saya tinggal di desa di mana orang-orangnya
terlalu ‘peduli’ dengan orang lain. Dan kata-kata yang kurang mengenakkan
seringkali terlontar. Sebelumnya saya pernah punya pacar, bukan kisah yang
indah, tapi banyak pelajaran yang bisa diambil. Well, intinya di situ kan.
Cinta yang berakhir bukan untuk diratapi, apalagi untuk dikenang, tapi untuk
diambil hikmahnya sebagai pembelajaran di masa mendatang.
Langganan:
Postingan (Atom)








.jpg)